ã_E’W˜H‘åkÐ‚Ì‹L‰¯ƒCƒ“ƒhƒlƒVƒAŒê–|–ó

Untunglah tertolong (Terjemahan oleh Megumi MICHISHITA)
Puisi oleh SEY , murid kelas 1 dari SD di Kobe

Jam enam kurang empat belas tanggal tujuh belas bulan Januari ada gempa.
Ibu saya dan saya tertindih lemari pakaian.
Setelah beberapa waktu lamanya bapak saya datang menolong kita.
Dahi ayah terluka dan berdarah.
Entah apa yang terjadi.
Ketika saya mengira begitu, bapak saya menghidupkan radio.
Dan saya kaget ketika mendengar gempa berkekuatan tujuh.
Pada malam itu lemari pakaian masih tinggal jatuh.
Kalau melihat lemari pakaian saya ingat gempa, jadi saya tidak mau melihat lemari pakaian.
Pada setiap kali gempa susulan datang, jantung saya dag-dig-dug.
Saya berdoa gempa tidak datang lagi.
Saya merasa gempa datang lagi, gMatikanlah api lilinh kata saya.
Karena sunyi bersama tiga orang, saya merasa mau berada bersama kira-kira sepuluh orang.
Saya khawatir kalau sekolah sudah hancur.
Tapi bapak berkata, gSekolah kukuh kuat.h
Saya mau pagi lekas datang.
Tapi itu malam panjang.
Saya merasa.
gUntunglah tertolong.h


(Terjemahan oleh Megumi MICHISHITA, mahasiswi tingkat 2 dari jurusan bahasa Indonesia Universitas Kyoto-Sangyo)

Gempa yang bodoh (Terjemahan oleh Megumi MICHISHITA)
Puisi oleh TEM, murid kelas 2 dari SD di Amagasaki

Debum,debum.
Lemari pakaian dan berbagai barang berjatuhan.
Aku mengira ini apa, tapi segera mengerti.
Inilah gempa.
Di sekitar situ mengobrak-abrik.
Lemari pakaian disingkirkan bapakku.
Aku tertolong.
Kenapa begini jadinya?
Banyak kaca juga pecah.
Aku merasai gempa untuk pertama kali.
Ikan hias peliharaan sudah mati.
Televisi menyiarkan berita saja.
Aku kurang senang.
Tapi hebat gempa.
Banyak alat makan jatuh dari lemari dapur.
Karena gempa terjadi, aku masuk ke dalam kasur bapak dan ibuku.
Di tingkat satu berbagai barang pecah berkeping-keping.
Ahh, kaget aku.
Waktu itu gempa terjadi lagi.
Gempa yang bodoh.


(Terjemahan oleh Megumi MICHISHITA, mahasiswi tingkat 2 dari jurusan bahasa Indonesia Universitas Kyoto-Sangyo)

Sudah 2 Tahun Berlalu Setelah Bencana Gempa
Karangan oleh YEM, murid kelas 3 dari SD di Kobe

Sudah 2 tahun berlalu setelah bencana gempa. Sebagian kota dibangun kembali. Tapi ada yang masih hancur.


Saya masih mempunyai mangkok yang ada di rumah nenek. Rumah nenek itu rusak akibat bencana gempa. Sekarang rumah nenek dibangun kembali. Itu rumah besar yang bertingkat tiga. Tapi saya masih lebih suka sekali rumah dahulu daripada yang baru. Karena rumah dahulu itu dibuat dari kayu.


Rupanya semuanya tenang-tenang. Tapi saya tidak bisa tenang-tenang. Karena saya tidak tahu kapan terjadi lagi gempa bumi. Jadi saya selalu meletakkan barang untuk darurat ke laci dekat tempat tidur saya.


Saya menjadi murid kelas empat. Bencana gempa adalah kejadian yang lalu. Jadi saya kira gSemoga semua warga Kobe melupakan gempa bumi dan ingat hari-hari yang baik saja.h


(Terjemahan oleh Akiko YOSHINO, mahasiswi tingkat 3 dari jurusan bahasa Indonesia Universitas Kyoto-Sangyo)

Pedulilah Sang Bumi
Karangan oleh NEN, murid kelas 5 dari SD di Kobe

Pada tanggal 17 bulan Januari tahun 1995, gempa berkekuatan 7 menerjang kami. Setelah 2 tahun berlalu, sekarang saya hidup dengan senang.


Kadang-kadang, saya berbicara tentang gempanya dengan teman-teman. Sumuanya bilang gaku takuth saja. Saya juga pikir begitu. Kenang-kenangannya hanya gtakuth saja.


Baru-baru ini, terjadi gempa berkekuatan 5 di Izu. Gempa bumi menerjang kami di mana-mana.


Tetapi, jangan memarahi gempa bumi. Sebenarnya, yang menyebabkan gempa kesalahan manusia. Gara-gara kami yang menghancurkan alam.


gSampai sekarang, manusia merusakkan, memukul, dan mengikis alam tanpa batas. Oleh karena itu, Sang bumi marah dan menyusahkan kami. Sang bumi boleh mengamuk. Mungkin dia marah bukan terhadap penghancuran, tapi pembuangan sumberdaya.h Saya kira begitu. Mulai sekarang, mari kita membuat barang-barang dengan memperhatikan Bumi sendiri.


Saya mau berkata kepada bumi. gMinta maaf atas kesalahan yang kami lakukan. Pasti badan Anda pernah sakit, ya? Tapi tolong menunggu dengan sabar sebentar lagi. Setelah menjadi dewasa, saya berusaha melindungi alam supaya Anda tidak sakit.h


Musibah gempa yang terjadi 2 tahun yang lalu agaknya mengandang hikmah. Saya kira itu pengalaman yang baik. Karena kami bisa memikirkan bumi dan melakukan gotong royong setelah gempanya terjadi. gSang bumi, terima kasih banyak.h Sekarang saya kira begitu dari lubuk hati.


(Terjemahan oleh Ikuko KURE, mahasiswi tingkat 3 dari jurusan bahasa Indonesia Universitas Kyoto-Sangyo)

PAGE TOP